Usai Pulang

Image Source on Pinterest

Senja tiba tidak dikira

Cepat terasa begitu saja

Menghilang sinar dari tengah

Menuju ruang hampa dingin udara

 

Kaki melangkah begitu saja

Tangan memeluk erat tubuh seketika

Embun menyeruak turun segera

Menyelimuti tanah, rotan, juga belanga

 

Sedikit mengira soal datangnya masa

Dimana fantasi hanya sekedar mimpi

Dan imajinasi membuahkan ilustrasi

Lamunan indah di sore hari

 

Duduk membatu mengikuti irama lagu dengan perut terasa pilu

Mencari – cari pelosok dapur itu

Mengganjal isi hanya dengan sebutir tahu

Pikiran ini pun turut mengganggu

 

Pulang sudah tidak pulang susah

Mencari jalan untuk kerumah tapi bosan sudah

Berdiam diri, murka ditempat

Mengarungi bayang hingga buyar asaku

 

Pergi untuk mencari tetap harus kembali

Menikmati jalanan pagi sampai malam pun dialami

Hanya untuk mencari – cari

Apa yang sebenarnya sudah ada dalam diri

Advertisements

Valentine dan Kesuciannya

boyhunterlove

Source on Pinterest

            Memasuki bulan Februari, sesekali coba berkunjung ke mall atau supermarket besar yang ada di kota kalian masing – masing. Lihatlah interior mall atau supermarket tersebut. Kalian pasti menjumpai interiornya dipenuhi pernak – pernik yang berkaitan dengan perayaan besar yang ada dibulan ini. Mulai dari yang berbentuk pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga yang didominasi dua warna: pink dan biru muda. Berkaitan dengan hal ini kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan dengan Valentine Day.

             Valentine day’s merupakan hari yang ditunggu oleh sebagian besar orang sebagai momentum dimana perayaan besar terhadap rasa kasih sayang itu diberikan. Valentine juga merupakan hari yang sangat identik dengan dengan cinta, puisi-puisi romantis, yang sudah bergeser dari cinta sebenarnya. Pelaksanaannya kini hanya sekedar pengertian harfiyah daripada valentine itu sendiri. Valentine adalah salah satu hari raya bangsa Romawi Paganis (yang menyembah berhala), bangsa romawi telah menyembah berhala semenjak 17 abad silam. Jadi hari raya valentine ini adalah merupakan sebutan kepada kecintaan terhadap sesembahan mereka. Budaya ini memang budaya yang berasal dari Negara barat. Seiring perkembangan jaman, budaya ini menyebar keseluruh penjuru dunia dan dikenali bahkan diikut sertakan pada tradisi mereka sebagai orang timur yang turut memperingatinya.

           Hari raya ini merupakan perayaan dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta, saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah antara satu sama lain. Valentine yang biasa dikatakan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama. Ya, Valentine merupakan nama dari seorang pahlawan Kristen yaitu Santo Valentine, kejadian ini terjadi tepat pada tanggal 14 februari 270 M. Kenapa hari ini menjadi hari besar dan kenapa banyak yang memperingati hari ini adalah hari kasih sayang. Pada mulanya pendeta dari Roma bernama Valentine, dipukuli dan berakhir dipancung pada 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan buah hukuman karena Valentine dianggap menentang kebijakan Kaisar Claudius II. Penentangan itu antara lain merupakan kebijakan Kaisar Roma soal pelarangan pernikahan. Valentine sebagai pendeta, menentang kebijakan ini dan secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Saat tindakan ini ketahuan, Valentine ditahan dan dihukum dipukuli hingga mati dan dipancung. Dari sudut pandang lain menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

       Dari hal tersebut dan juga atas jasanya, Valentine dinobatkan sebagai orang suci hingga disebut Santo Valentine. Meski demikian, identitas asli dan kenyataan dari legenda Valentine masih dianggap belum jelas. Menurut Ensiklopedia Katolik, paling tidak ada tiga Saint Valentine dan kesemuanya martir. Satu pendeta berasal dari Roma, yang kedua adalah uskup dari Interamna (sekarang Terni, Italia), dan yang ketiga Santo Valentine martir dari provinsi Roma di Afrika.

      Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

        Tentang sejarah valentine ini ada banyak versi yang menyebutkan, tetapi dari sekian banyak versi menyimpulkan bahwa hari valentine tidak memiliki latar belakang yang jelas sama sekali. Legenda menyebutkan perayaannya pada jaman romawi kuno adalah menempatkan nama setiap wanita diatas kertas lalu dimasukannya kedalam botol, lalu para pria akan mengundinya. Setelah itu, nama wanita yang didapatkan oleh pria akan menjadi pasangannya. Namun perayaan semacam itu sudah lama berakhir dan tidak diteruskan lagi. Adapula yang menyebutkan jika seseorang mampu meniup bunga dandelion di hari valentine, dan menyebutkan nama seseorang hingga pada tiupan terakhir bunga itu habis, maka kamu akan hidup bahagia bersama orang yang kamu sebut namanya. Namun itu kembali kepada kepercayaan setiap orang akan tradisi dari hari valentine ini.

       Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, terutama remaja perkotaan. Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih. Valentine Day memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang momentum ini dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali negeri-negeri Islam besar seperti Indonesia. Di Indonesia sendiri tidak banyak yang memperingati hari kasih sayang ini yang menjadi hari besar di Negara barat. Hal itu dikarenakan karena Indonesia sendiri adalah Negara yang mayoritas beragama islam, dan dengan berbagai macam hukumnya terhadap perayaan – perayaan yang makruh urung dilakukan atau bahkan diharamkan karena perayaan ini termasuk kedalam perayaan sesembahan kepada berhala pada mulanya. Namun sekarang, bisa dilihat, perayaan – perayaan kecil yang terjadi di Indonesia banyak dilakukan. Tidak menutup kemungkinan para remaja yang sangat kental dengan kisah percintaan mereka pun turut andil dalam perayaan semacam ini. Perayaan yang dimaknai dengan kasih dan sayang yang harus diberikan seringkali dimaknai secara menyimpang oleh sebagian orang.

        Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik esensi dari Valentine Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja dengan perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan sebagainya. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda. Tidak sedikit orang yang memperingati hari valentine ini dengan bercinta dengan lawan jenis yang menurut mereka saling mengasihi dengan cara seperti itu diluar pernikahan dan tidak jarang juga orang melakukan kegiatan diluar pemaknaan hari kasihi sayang ini. Momen kasih sayang yang seutuhnya seharusnya hadir di setiap hari – hari kita hidup. Kepada siapapun, kepada apapun yang kita miliki, rasa sayang itu haruslah kita timbulkan sebagai bentuk atau simbolis kita ingin menjaga sesuatunya daripada keburukan. Karena pada mulanya hari ini hadir dengan kesucian yang utuh sebagai persembahan kasih sayang dan penentangan terhadap orang yang merasa terkekang oleh tindakan atau kebijakan yang menghakimi mereka untuk tidak bisa mengasihi satu sama lain.

     Valentine dan kesuciannya merupakan sebuah hari dimana menjadi pengingat kepada kita semua bahwa mengasihi satu sama lain tidak mesti dirayakan dalam satu hari dalam satu tahun saja. Setiap orang diberikan kemampuannya masing – masing untuk dapat mengasihi dan menyayangi sesamanya dalam bentuk sebebas mungkin. Kebebasan inilah yang diberikan kepada setiap umat manusia, tidak membedakan satu sama lainnya, melainkan menjadi pengingat bahwa yang memberikan kasih dan sayang tanpa batas adalah sang Maha Pengasih dan Pengampun itu sendiri, Tuhan Semesta Alam Sang Pencipta.

Universitas Bayar Aja

Source: Pinterest

Universitas masa kini

Bisanya cuma bikin janji

Untuk mahasiswa – mahasiswi

Sebaiknya berhati – hati
Pamer tingkat tinggi

Demi sebuah nama institusi

Mengorbankan kami

Hanya untuk sekedar adu gengsi perguruan tinggi
Hobinya menutup diri

Dibilangnya mahasiswa tidak bisa berkontribusi

Melihat birokrasi bobrok sekali

Mengkritisi dianggap perlawanan masa kini
Mahasiswa diumpan dengan nilai IPK

Kami tahu itu hanya sekedar huruf dan angka

Simbol belaka sebagai syarat wisuda

Tanpa uang semua pasti ditunda

Tak peduli hasil darimana

Atau pilih cuti paksa
Institusi kekinian

Hobinya hanya liburan

Berkedok study dan kunjungan

Semua itu hanyalah permaianan 

Dengan memajukan jadwal perwalian ditengah pelaksanaan ujian

Mereka sibuk persiapan

Hey, kami keberatan!
Lembaga pendidikan berlandaskan agama islam ‘katanya’

Menaikan harga tiap ada maba

Apa gunanya?

Mana fasilitasnya?

Tunjukan pembangunannya jika tidak mau dibilang riba

Atau memang cuan kerjaannya

Kecewa…
Terkadang kami hanya butuh pengakuan

Disamping desakan juga himpitan soal perkuliahan

Kami ingin kesesuaian

Antara pembayaran dengan pembangunan

Bukankah itu menjadi sebuah kesepakatan

Juga bentuk pertanggungjawaban kalian wahai yang punya jabatan
Dewata hingga Korea boleh jadi saksi mata ‘hura – hura’

Mobil lama diganti muda 

Supaya lancar jalannya atau manja orang – orangnya?

Kami disini mahasiswa

Bukan kacung yang terus diperas pikiran, tenaga juga uangnya

Coba berkaca untuk kepentingan bersama

Mahasiswa hanya menuntut keadilan semata

Dianaloginya

Terkadang cinta bukan soal rasa

Dia ada karena memiliki cerita

Cinta hanya lima huruf yang disusun manusia

Menjadi satu kata berjuta makna

Bukan karena suka

Atau saling terbuka

Tapi cinta datang kapan saja ia suka

 

Setiap orang memiliki cinta

Pada orang tuanya, sahabatnya, teman – temannya, peliharaannya, benda pribadinya, dan lain – lainnya

Semua pasti ada dasarnya, dan setiap orang bisa memilih untuk suka atau membencinya

 

Cinta terkadang malu – malu

Membuat banyak orang harus menunggu

Tapi tak sedikit untuk memilih maju terlebih dahulu

Sebelum nantinya kembali tersipu ragu

 

Cinta itu realita

Bukan hanya sekedar fiktif belakaapalagi buaian mata

Nampak seperti banyak orang bicara

Sedikit dari mereka yang paham maksudnya

Dalam pengaplikasiannya tetap saja dipandang semu bak maya

 

Banyak orang berkata tentang cinta

Mengandalkan rasa, juga suka sama suka

Anugerah Tuhan yang tidak bisa diterka

Cinta bukan cuma mengandalkan logika

Bukan juga sebagai pemuas nafsu belaka

Cinta datang tiba – tiba

Menuntut peka terhadap sesama

Awas Diri

Girl Face Mood Sad Pencil Drawing ; Girl Face Pencil Drawing - Drawing Of Sketch

Berkaca dalam bayang, terkurung dalam diam

Ini bukan soal diri

Apalagi pikiran juga hati

Mata hidung sampai kaki

Ikut merasakan apa yang harus dinanti

 

Pendekatan masa kini

Dibilangnya harus mendalami

Atau dengan nyela sana sini

Terkadang bikin iri hati para pembenci

Banci

 

Sebuah aksi yang ditunggu lama

Terkadang muncul kepermukaan sebagai tokoh lama

Hanya itu saja

Sisanya terbengkalai mengikuti ritma

Dalam pesta penutup mata dan telinga

 

Perhatian selalu dijanjikan

Menunggu lama hingga akhirnya terlupakan

Sungguh penantian yang selalu ditikam habis – habisan

Seperti tinta untuk lukisan yang tak pernah tergoreskan

 

Banyak yang menjadi saksi

Tapi tidak peduli

Melihat kanan kiri untuk turun pertama kali

Tapi tidak jadi

Karena takut dibilang sok berani

Padahal memang tak pernah punya nyali

 

Jika hanya memang tipu belaka

Tak usah sok berlaga

Ujung – ujungnya ketahuan juga

Siapa yang nyata dan siapa yang “ingin dianggap” ada

Cerita Sepulang Sekolah

P_20180103_100956

Tiga sekawan dalam perjalanannya menuju rumah masing – masing.

Pagi menjelang siang hari tadi aku memutuskan untuk berjalan kaki dari rumah menuju kampusku. Bukan karena tidak ada kendaraan ataupun tidak adanya transportasi public melainkan hanya untuk mengganti niatku berolahraga tadi pagi yang kemudian hanya sekedar mimpi di pagi hari. Aku bangun kembali kesiangan, jadi niat untuk berolahraga kembali ditinggalkan. Maka daripada itu akku memutuskan untuk berjalan kaki menuju kampus. Kampus biru dari rumahku yang berada di daerah Bandung utara sebenarnya tidak cukup jauh, dan aku sudah beberapa kali melakukan perjalan dari rumah menuju kampus ataupun sebaliknya. Hanya untuk sekedar mencari apa yang tidak bisa ditemukan ketika aku melakukan perjalan menggunakan kendaraan.

Aku berjalan belum terlalu jauh dari rumah, dan udara masih cukup terasa dingin diluaran. Padahal hari sudah mulai beranjak siang. Hari ini waktu menunjukan pukul 10.03 WIB ketika aku melihat kearah jam tanganku. Sepanjang jalan dari arah rumahku memang banyak warung makan bertebaran di pinggir jalannya. Ya daerah rumahku memang daerah atas yang notabene merupakan daerah tempat makan yang memiliki view kota Bandung. Jadi wajar saja jika long weekend kemarin banyak warga luar kota mampir hanya untuk sekedar mencicipi hidangan masakan didaerah sini. Tidak hanya long weekend kemarin saja melainkan tiap akhir pekan pun kini sudah semakin ramai dengan pengunjung dari kota tetangga (Jakarta).

Aku tidak akan banyak berkomentar soal rumah makan daerah sini, hal unik aku temukan saat jalan kaki kali ini. Sedang asiknya menikmati pemandangan yang banyak diselimuti awan namun dengan langit yang cerah, dari kejauhan Nampak adanya tiga orang anak kecil yang sedang berjalan menyusuri jalan. Jalannya memang tidak begitu ramai namun mereka seperti terlihat asik menikmati jalanan. Tiga orang anak itu berseragamkan putih merah, berarti SMA lah ya. Sudah jelas Sekolah Dasar lah. daerah rumahku juga terdapat beberapa Sekolah Dasar, setidaknya ada tiga sekolah yang berdekatan di daerah rumahku. Jadi wajar kalau cukup ramai ketika hari sekolah seperti ini. Namun karena ini belum jam pulang sekolah jad iya masih sepi jalanan juga.

Namun nampaknya sudah ada yang pulang di jam segini, mungkin itu kelas tiga atau dua, dan mungkin karena ini masih awal – awal sekolah kembali mengaktifkan kegiatan belajar mengajarnya. Menarik ketika melihat anak itu berjalan menikamti udara dan lingkkungannya. Sesekali tiga anak itu memetik dedaunan yang berada dipinggir jalan dan juga sembari terus berbincang dengan teman – temannya. Aku tidak menanyakan siapa nama mereka, aku hanya terus mengikutinya dari belakang sambil menikmati pemandangan ini. Pemandangan yang kini teralihkan dari yang tadinya melihat kearah luas langit kini difokuskan terhadap tiga orang anak ini. Menarik untuk diperhatikan apalagi untuk diulas lebih lanjut dan mendengarkan cerita dari masing – masing mereka sepanjang perjalanan. Tapi aku tidak melakukan hal itu kali ini.

Aku masih mengikutinya dari belakang dengan beberapa kali aku tersenyum melihat tingkah laku mereka. Dengan polosnya mereka bercanda dan seakan mereka tidak sadar bahwa mereka berada dijalan yang setidaknya masih ramai dengan kendaraan yang lewat berseliweran. Mungkin tidak begitu dihiraukan suara bising yang mereka dengan dari pipa kenalpot kendaraan yang lewat, hanya angina dan celotehan mereka saja yang dapat masuk ke pendengaran mereka dikala berjalan bertiga.

Kurang lebih 300 meter aku mengikuti mereka dari belakang sebelum akhirnya aku menyusul mereka. Dan mereka sama sekali tidak bergeming dengan keberadaanku yang sedari tadi mengikutinya dari belkang hingga akhirnya aku susul mereka. Sungguh asiknya masa dimana kita masih ceria dengan apa yang kita punya (teman). Teman yang selalu menemani perjalan diantara rumah dan sekolah. Menjadi cerita dikala kita sudah sampai rumah. Menajdi bahan tawa ketika nanti mereka tumbuh dewasa. Kembali kesekolah mungkin bagi beberapa orang itu membosankan tapi untuk anak – anaka seumuran mereka itu sangatlah mengasyikan.

Sadar akan rumahnya yang jauh dari sekolah tidak menjadi pengahalang untuk mereka menjujung pendidikan. Menjemput bola dunia yang tidak akan ada habisnya jika dicari. Tetaplah semangat, perjalanan kalian masih panjang, perjalanan kalian masih jauh, masih jauh dibandingkan jarak rumah juga sekolah.

 

 

END.

Penghujung Hari, Bulan, Juga Tahun.

2017

end

image source : google

             Hari ini adalah hari minggu, minggu terakhir, hari terakhir bahkan pekan terkahir. Ya serba terakhir untuk tahun 2017 ini. Semua akan berakhir dalam beberapa jam kedepan. Tidak ingin menghabiskan waktu ditahun ini bahkan hari terakhir ditahun ini begitu biasa saja bukan. Hampir semua orang ingin merayakan moment pergantian tahun baru ini dengan semeriah mungkin bersama teman- teman atau pun kerabat bahkan pasangannya masing – masing. Semua akan dilakukan dihari terakhir tahun ini, termasuk keluar hingga larut malam hanya untuk sekedar menyaksikan parade mobil pawai yang meramaikan moment pergantian tahun ataupun hanya sekedar melihat ribuan kembang api menyala dilangit seluruh dunia, meskipun tidak terlihat semuanya. Bahkan yang dirumahpun turut menyaksikannya lewat televisi hingga gadgetnya masing – masing dengan banyaknya orang yang melakukan kegiatan live report di social media terutama Instagram.

2017 merupakan tahun dimana hari – hari nya dihabiskan dengan percuma. Banyak waktu yang terbuang percuma ditahun ini. banyak kegiatan yang harusnya bisa dilakukan, namun tidak untuk tahun ini. Penghargaan yang dipinang Patrick Star di Bikini Bottom pun harusnya sudah diterima juga olehku sebagai orang yang paling banyak tidak melakukan apapun. Mungkin seperti itulah gambarannya tahun ini. Tidak banyak yang aku lakukan ditahun in selain hanya untuk bermain dengan gadget, jalan – jalan santai diluar, ngopi, kuliah, dan bermalas – malasan diatas karpet yang entah kenapa sangat nyaman tiduran dilantai dengan beralaskan karpet saja atau tidak sama sekali.

Menulis, menggambar, membuat kriya, mural, ataupun sebagainya benar – benar tidak aku lakukan ditahun ini. Kertas, kanvas, tembok, laptop, blog, dan lain – lainnya yang merupakan media dimana tempat aku biasanya menuangkan ide – ide, kini terabaikan penuh. Blog ini pun yang setahun ini tidak pernah aku sentuh, kini mulai aku khawatirkan keberadaannya. Akankah terus dilanjutkan atau hanya menjadi kiasan belaka menjadi aplikasi yang tidak pernah digunakan. Media – media lainnya seperti media jurnal himpunan pun tidak aku isi, tulisan yang seharusnya aku kirim dimedia tempat aku bernaung saat menjadi wartawan pun urung aku untuk mengisinya dengan tulisan. Padahal sederhana, hanya menggoreskan tinta ke atas kertas, ataupun menekan tombol – tombol pada keyboard, hanya itu saja, tapi rasanya sulit dilakukan dengan rasa malas dang abut istilah sekarang yang begitu melekat didalam diri ini.

Okay cukup sudah untuk bermalas – malasnnya, ini bukan waktunyalagi untuk berdiam diri, atau hanya mengikuti ego malas yang terus tumbuh jika dituruti. Tahun ini sudah habis dengan tidak adanya apa – apa, tapi tahun depan aku ingin menghabiskannya dengan karya. Semoga tidak menjadiisu belaka.

Sebelum berencana untuk tahun depan aku ingin mengulas kembali tahun ini mulai dari awal aku memulainya. Sebagai ganti tidak produktifnya aku ditahun ini. Mulai dari moment pergantian tahun 2016 – 2017 aku habiskan bersama teman rantauku yang jauh – jauh dari Kalimantan untuk kuliah di Bandung. Aku menghabiskna waktu moment pergantian tahun lalu itu dengan kenakalan yang sering kita berdua lakukan, sayangnya hanya benar – benar kita berdua yang berada dikampus. Ya aku menghabiskan waktu bersama dikampus, sembari melihat kearah langit yang menyala dengan polusi cahaya bertebaran dilangit penuh awan kelam itu. Langitnya berawan karena memang baru saja habis turun hujan.

Mulai ke pertengahan tahun, dimana sedang asik – asiknya berkegiatan bersama himpunan kampus dengan banyaknya kerjasama dengan beberapa media bahkan instansi terkait, disini jugalah aku menemukan sebungkus Petjin yang akan menemaniku untuk hari – hari kedepannya. Ya aku menemukan seonggok “Petjin”. Senda gurau yang selalu kita lakukan ditengah padatnya rentetan kegiatan himpunan juga perkuliahan masih bisa kita lakukan. Karena memang kesehariannya diisi dengan bercanda, atau jangan – jangan kita kuliah bercanda, di himpunan kita bercanda, dan kita hidup ini bercanda, ah sudahlah. Tadi aku menyebutkan “padatnya rentetan kegiatan” , ya rentetan kegiatan ngebercandain orang.

Beberapa bulan kemudian, akupun menyelesaikan beberapa tugas kuliah dan tugas untuk diriku sendiri. Tugas dimana aku berhutang pada janji diriku sendiri untuk menyelesaikan buku pertamaku yang sudah tertahan selama setahun lebih kebelakang. Kini buku itu sudah terbit meskipun belum menemukan penerbit tapi aku ingin buku itu tetap terbit. Diterbitkan secara independent dengan bantuan layout dari teman grafisku yang kerupuk itu. Garing maksudnya. Diproses dengan tidak begitu lama, karena memang tertahan dipenerbit saja untuk menerbitkan buku ini, bukan tanpa alasan aku menerbitkan secara independent, aku pun memasukan naskah ke ebberapa penerbit namun belum ada respon hingga saat ini, dan beberapa penerbit sudah ada tanggapan untuk tidak sekarang menerbitkan bukuku. Mungkin karena sedang banyaknya buku yang mau terbit atau mungkin lagi rusak mesin cetaknya. Mengelak karena aku tidak ingin menyebutkan naskah aku yang jelek. Akhirnya buku itu pun berhasil dicetak dan menjadi kado terindah untuk ulang tahunku ditahun ini. Buku ini diluncurkan tepat pada tanggal 1 Agustus, hanya sekedar ingin berbarengan dengan ulang tahunku saja. dan sebenarnya juga tidak diluncurkan untuk publik melainkan hanya untuk diriku seorang. Untuk publik masing aku perhitungkan percetakannya. Mahal juga rupanya nyetak sendiri. tapi pasti akan aku luncurkan buku itu untuk teman – teman ku yang sudah banyak mendengar ceritaku yang akan menerbitkan buku, jadi tunggu saja ya kawan. Begitu juga publik diluaran sana.

Memasuki bulan – bulan berakhiran –ber, bulan dimana yang seharusnya diisi dengan air hujan disetiap ahrinya tetapi nampaknya begitu kering kerontang karena panas dan hujan yang tidak emnentu, bahkan untuk beberapa daerah yang menunggu hujan malah kini kebanjiran dengan datangnya hujan yang tidak kunjung berhenti. Begitulah manusia, ketika tidak ada ditunggu, tapi ketika datang mengeluh. Mau mengeluh pada Tuhan? Aku sih tidak. Bulan – bulan sebelum berakhirnya tahun ini aku semakin tidak banyak berkegiatan, terlebih kegiatan dikampus terutama dalam organisasi sudah mulai beres satu persatu. Dimuali dari bulan September hingga Desember ini dipenuhi dengan tawa canda dan juga hura- hura hingga berduka karena kita tahu akan datangnya dimana hari kita berpisah dalam organisasi. Setahun penuh membangun kemistri satu sama lain, kini harus tergantikan dengan orang – orang baru dalam organisasi tersebut. Ya mungkin seperti itu seharusnya, sudah menjadi siklus dalam suatu kepengurusan organisasi dimanapun itu. Terlalu banyak baper yang dirasakan orang – orang dibulan – bulan ini. ditutup dengan kunjungan serta liburan kita kepulau sebrang.

Hingga akhirnya kini penghujung tahun pun sudah hampir tuntas dijalani, akupun kini sudah menajdi orang yang benar – benar bebas dari urusan organisasi juga kegiatan lainnya. Menjadi sampah dalam lingkungan sendiri mulai harus aku terima sebagai orang yang tidak memiliki kegiatan pasti. Jangan sampai jadi sampah masyarakat tapinya, semoga. Kini sudah berada di 31 Desember, sampah baru mulai bertebaran dilingkunganku, namun aku yakin itu hanya predikat semata karena kegiatan, tapi aku berani bertaruh untuk tahun depan siapa yang sebenarnya menjadi sampah karena aku akan menjadi sampah yang memiliki banyak kegiatan juga karya. Semangat menjalani tahun depan yang akan datang, semoga resolusi kalian akan terlaksana dan semua pencapaian yang belum tuntas akan terwujud ditahun 2018.

Blog ini akan kembali hidup ditahun – tahun yang akan datang.

Semangat menjalani aktifitas, selamat tahun baru untuk semuanya.